MAU PASANG IKLAN GRATIS UNTUK MENDAPAT PENGUNJUNG LEBIH BANYAK DAN MEMPERCEPAT USAHA ANDA BERHASIL...KLIK DISINI!!

Pasang Iklan Baris Gratis Tanpa Daftar

Iklan Baris Gratis ini disediakan untuk anda sebagai pemilik usaha, barang dan jasa serta berbagai peluang bisnis dan peluang usaha supaya anda bisa menunjukkan - mempromosikan produk jasa anda kepada seluruh dunia di internet. Promosi merupakan darah bagi kelancaran bisnis anda... untuk itu silahkan datang sesering mungkin untuk mempromosikan dan pasang "Iklan Baris Gratis" anda di website ini.

Pasang Iklan Baris Gratis disini bisa untuk jenis iklan apa saja, misalnya: iklan rumah, properti, jasa, domain hosting, laptop komputer, villa, kendaraan motor mobil, handphone hp bekas baru, bisnis mlm, segala jenis barang dan jasa.

Pasang iklan Anda, Gratis sepuas-puasnya di seluruh network Kami yg lain:

  • Azon Profit Master

Jual Kamboja Kering Dan Basah

Pohon kamboja, khususnya kamboja berbunga putih (Plumeira alba), masih dipandang sebelah mata. Sebab, kebanyakan tanaman ini tumbuh di kuburan. Tidak jarang, orang menyebutnya sebagai bunga kuburan. Bunganya yang telah dikeringkan, lantas ditumbuk halus, banyak dipakai sebagai bahan baku wewangian, kosmetik, industri kerajinan dupa, spa, serta teh herbal. Untuk harga perkilo, kami tidak mematok harga paten dikarenakan harga yang tidak stabil dan berubah sewaktu-waktu. Jika anda berminat, silahkan hubungi kami atau jika anda ada di Banjarmasin, bisa datang langsung ke tempat kami.
Dikirim oleh : Kamboja Kering, banjarmasin, 081334232727 | Kunjungi Website

DOWNLOAD - JURUS GOBLIN SAKTI

Jurus ampuh terbaik meraup RATUSAN SAMPAI RIBUAN dollar per hari! Kini Sudah saatnya anda berhasil meraih kebebasan finansial Anda dg strategi se-simple ini Ayoo..Buktikan kedahsyatan jurus ampuh ini! Raih Kebebasan finansial Anda sekarang juga! Dapatkan full Suport dari kami
Dikirim oleh : meki coli, mekicoli.blogspot.com, 082298975358 | Kunjungi Website

Pengaruh Harga Jual Terhadap Volume Penjualan Pedagang Pengecer Ayam Buras Di Makassar (PT-30)

Senin, 18 Februari 2013
Peternakan merupakan salah satu sumber perekonomian khususnya bagi petani peternak. Dengan memperdagangkan ternak, petani peternak dapat memenuhi kebutuhan keluarga seperti menyekolahkan anak dan biaya kesehatan, bahkan pada saat kondisi kritis seperti gagal panen, komoditi ternak justru diandalkan untuk menopang pengadaan ketersediaan pangan keluarga.
            Usaha peternakan semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Pembangunan sektor peternakan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat petani peternak, selain itu membuka lapangan kerja dan kesempatan untuk berusaha, oleh karena itu pembangunan sektor peternakan perlu untuk dilanjutkan dan ditingkatkan melalui kemampuan pengelolahaan dan penerapan teknologi yang tepat (Murtidjo,1992).
Telur dan daging ayam buras memiliki pangsa pasar tersendiri. Hal ini ditunjukkan oleh harganya yang melebihi telur dan daging ayam ras serta konsumennya banyak. Ayam buras merupakan salah satu unggas lokal yang umumnya dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan daging. Selain dapat diusahakan secara sambilan, mudah dipelihara dengan teknologi sederhana, dan sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan mendesak unggas ini mempunyai prospek yang menjanjikan, baik secara ekonomi maupun sosial, karena merupakan bahan pangan bergizi tinggiserta permintaannya cukup tinggi. Pangsa pasar nasional untukdaging dan telur ayam buras masing-masing mencapai 40% dan 30%.  Hal ini dapat mendorong peternak kecil dan menengah untuk mengusahakan ayam buras sebagai penghasil daging Produktivitas ayam buras yang dipelihara secara tradisional masin rendah, antara lain karena tingkat mortalitas tinggi, pertumbuhan lambat, produksi telur rendah, dan biaya pakan tinggi. Produksi telur ayam burasyang dipelihara secara tradisional berkisar antara 40−45 butir/ekor/tahun, karena adanya aktivitas mengeram dan mengasuh anak yang lama, yakni 107 hari.Untuk meningkatkan populasi, produksi, produktivitas, dan efisiensi usaha tani ayam buras, pemeliharaannya perlu ditingkatkan dari tradisional ke arah agribisnis (Suryana dan Agus, 2008).

Menurut Chan dan Zamrowi (1988) dalam Teti (2002), dengan berkembangnya pembangunan terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan, maka ayam buras telah menjadi salah satu sorotan untuk dijadikan salah satu sumber atau sasaran pembangunan yang sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan dan gizi protein hewani terutama bagi masyarakat tani di pedesaan. Dengan penjualan ayam buras, akan diperoleh uang tunai secara cepat, sehingga dapat dipenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan biaya anak-anak sekolah, bayar pajak dan kebutuha-kebutuhan lain yang mendesak.
Pedagang ayam buras pada setiap pasar di Makassar berdasarkan hasil survei awal sebanyak 100 orang yang terbagi atas beberapa pasar yaitu Pasar Terong sebanyak 27 orang, Pasar Daya sebanyak 18 orang, Pasar Pannampu sebanyak 23 orang, Pasar Pa’baeng-baeng sebanyak 21 orang dan Senggol sebanyak 11 orang.
Harapan pedagang ayam buras di Makassar mengharapkan ayam buras yang mereka jual laku dan habis terjual akan tetapi kenyataan di lapangan ayam buras yang di jual tidak habis terjual tiap harinya. Menurut informasi dari pedagang pengecer ayam buras di Makassar, pedagang menaikkan harga jual sehingga menyebabkan daya beli konsumen terhadap ayam buras di Makassar hanya sesuai kebutuhannya.Sehingga hal inilah yang melatar belakang dilakukannya penelitian mengenai “Pengaruh Harga Jual Terhadap Volume Penjualan Pedagang Pengecer Ayam Buras di Makassar”

Pengaruh Intensitas Penyuluhan Dan Karakteristik Teknologi Budidaya Sapi Potong Terhadap Jenis Adopsi Inovasi Oleh Peternak Di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo (PT-29)

Dalam pembangunan nasional, sektor peternakan lebih bersinggungan dengan software (perangkat lunak) yang salah satunya adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Hal ini dikarenakan produk peternakan adalah sumber esensial protein hewani yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kecerdasan manusia. Subsektor peternakan dapat dikatakan sebagai subsektor yang strategis, karena permintaaan akan protein hewani oleh masyarakat terus meningkat.
   Salah satu usaha dalam subsektor peternakan yang memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu usaha budidaya sapi potong. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil bahwa budidaya sapi potong memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani peternak atau menguntungkan secara finansial.  Penelitian Soebroto (2009) menunjukkan hasil, bahwa budidaya ternak sapi potong sangat menguntungkan karena dengan minimal 4 ekor sapi tiap kandang, hanya dalam waktu 1 tahun, BEP (Break Even Point) dicapai pada tingkat penjualan Rp 15.200.000,- dengan B/C ratio 1,126.
Menurut Rahim (2010) bahwa pengembangan sapi potong di Indonesia pada saat sekarang ini maupun dimasa yang akan datang sangat menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah permintaan atau kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi protein hewani yang bersumber dari daging. Oleh karena itu petani peternak dan pengusaha ternak sapi potong serta instansi pemerintahan sangat dituntut meningkatkan kuantitas dan kualitas sapi potong untuk memenuhi permintaan konsumen. Kuantitas dan kualitas ternak sapi potong dalam hal ini sapi Bali perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius, karena ada banyak faktor yang berpengaruh dalam pengembangannya seperti genetik dan lingkungan.            

Salah satu langkah yang dilakukan untuk mempercepat laju pengembangan sapi potong yaitu kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan kegiatan penyuluhan pertanian, petani yang mengusahakan sapi potong dapat mempunyai persepsi positif terhadap sebuah teknologi. Melalui persepsi yang positif, diharapkan petani bersedia mengubah perilaku dalam pengolahan usaha yang dijalankan sesuai dengan anjuran teknologi dari penyuluh. Dengan penerapan teknologi dalam usaha budidaya sapi potong yang sesuai dengan anjuran  penyuluh diharapkan petani dapat mengelolah usahanya dengan baik, dan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak.
Suatu teknologi yang disampaikan oleh penyuluh tidak akan berguna tanpa adanya adopsi. Demikian juga dengan teknologi dalam budidaya sapi potong yang telah disuluhkan oleh  penyuluh seperti perkandangan, pemberian pakan, teknologi reproduksi, dan pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah ternak tidak akan berguna jika tidak diadopsi oleh sasaran penyuluhan yaitu para peternak sapi potong. Terkait dengan itu, Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo yang merupakan salah satu daerah pengembangan sapi potong di Kabupaten Wajo yang ditunjukkan dengan jumlah populasi sapi potong yang tinggi di Kecamatan Pammana yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Populasi Sapi Potong tiap Desa/Kelurahan di Kecamatan   Pammana tahun 2011.
No.
Desa / Kelurahan
Jumlah Populasi Sapi Potong (Ekor)
1.
Tobatang
159
2.
Wecudai
251
3.
Lapaukke
529
4.
Kampiri
617
5.
Pallawarukka
105
6.
Watampanua
149
7.
Cina
555
8.
Pammana
555
9.
Simpursia
704
10.
Lempa
13
11.
Patila
560
12.
Lampulung
9
13.
Abbanuange
148
14.
Tadang Palie
181
15.
Lagosi
252

Kecamatan Pammana
5. 243
Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Wajo, 2011.
Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan populasi sapi potong setiap desa di Kecamatan Pammana dan Desa Simpursia merupakan salah satu desa pusat pengembangan pertanian terpadu berbasis sapi potong di Kabupaten Wajo yang memiliki populasi sapi yang tinggi yaitu sebanyak 704 ekor. Pada umumnya masyarakat di Desa Simpursia memelihara ternak sapi potong. Kondisi ini didukung oleh adanya kegiatan penyuluhan pertanian di desa ini. Dimana kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Simpursia dilaksanakan secara temporer dan secara rutin dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Kegiatan penyuluhan pertanian banyak dilaksanakan karena atas permintaan petani peternak setiap saat bila dibutuhkan.

Pemeliharaan sapi potong di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo merupakan bagian dari usaha tani tanaman yang dijalankan masyarakat. Masyarakat telah mengetahui manfaat dari pemeliharaan sapi potong yaitu usaha yang memberikan keuntungan dan dengan hasil penjualan dari sapi potong, mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti biaya pendidikan anak dan biaya usaha tani tanaman seperti pembelian pupuk. Namun, pada umumnya peternak belum melakukan reinvestasi pada usaha sapi potong yang mereka kelolah yaitu bahwa peternak tidak melakukan penanaman modal kembali dari keuntungan yang diperoleh dari usaha sapi potong untuk memperbaiki pengelolaan usaha sapi potong yang meraka jalankan. Peternak menggunakan hasil penjualan dari sapi potong untuk biaya produksi usaha tani tanaman yang mereka kelolah seperti pembelian pupuk dan untuk kebutuhan seperti biaya sekolah anak, sehingga hasil penjualan sapi potong tersebut tidak digunakan untuk memperbaiki pengelolaan usaha sapi potong dengan melakukan penerapan teknologi dalam budidaya sapi potong (perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah) secara menyeluruh (survei pendahuluan).
Pengelolaan usaha sapi potong yang baik dengan penerapan teknologi dalam pemeliharaan sapi potong seperti perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah dapat meningkatkan produktivitas ternak dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan peternak. Namun, pada umumnya peternak sapi potong di Desa Simpursia Kecamatan Pammana belum menerapkan teknologi dalam budidaya sapi potong (perkandangan, pakan, teknologi reproduksi, pencegahan dan pengendalian penyakit serta pemanfaatan limbah) secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan dalam mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Mardikanto (2009), dalam mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : sifat-sifat atau karakteristik inovasi, sifat-sifat atau karakteristik calon pengguna, saluran atau media yang digunakan, dan kualifikasi penyuluh. Hasil penelitian dari Prabayanti (2010) yang menyatakan bahwa adopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh karakteristik teknologi dan frekuensi seseorang dalam mengakses saluran komunikasi baik melalui penyuluhan interpersonal maupun media massa untuk mendapatkan informasi mengenai suatu teknologi. Berdasarkan uraian tersebut, maka diadakan penelitian mengenai Pengaruh Intensitas Penyuluhan dan Karakteristik Teknologi Budidaya Sapi Potong terhadap Jenis Adopsi Inovasi oleh  Peternak di Desa Simpursia Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo.

Pengaruh Jenis Otot Dan Level Asap Cair Terhadap Kualitas Daging Pascarigor Sapi Bali (PT-28)



Populasi penduduk Indonesia yang terus bertambah mengakibatkan permintaan kebutuhan pangan terus meningkat salah satunya adalah kebutuhan protein hewani.  Daging temasuk dalam bahan makanan yang mudah rusak, oleh karena itu perlu penanganan yang lebih komprehensif agar bahan makanan tersebut lebih tahan lama disimpan.
Daging merupakan hasil pemotongan ternak yang telah melalui fase rigormortis, dalam proses rigormortis tersebut otot akan mengalami kehilangan glikogen dan mengakibatkan otot menjadi kaku, setelah itu enzim-enzim proteolitik pada daging akan bekerja dalam memperbaiki keempukan.  Pada fase rigormortis kemampuan daging dalam mengikat air akan menurun, maka perlu dilakukan penambahan bahan sebagai bahan pengikat.
 Jumlah jaringan ikat dalam otot merupakan komponen terpenting dalam menentukan empuk tidaknya daging, selain itu jaringan ikat juga mempengaruhi tekstur dari pada daging.  Otot yang mengalami banyak aktifitas selama hidup memiliki tekstur yang lebih kasar, seperti otot Pectoralis profundus.  Sedangkan otot Semitendinosusdan Longissimus dorsi memiliki tekstur yang lebih halus.  Menurut penelitian Abustam (1987) bahwa nilai kadar kolagen pada setiap jenis otot berbeda, otot Longissimus dorsi kadar kolagennya 6,18 mg/g lebih rendah dari Semetendinosusdengan kadar kolagen 11,09 mg/g dan kadar kolagen dari otot Pectoralis profundus adalah 12,11 mg/g.  Demikian pula solubilitasnya dimana otot Longisimus dorsi persentase kerutannya lebih tinggi yaitu, 35,6%, Semitendinosus31,71% sedangkan otot Pectoralis profundus 30%.
Kualitas daging pascapanen dan selama penyimpanan akan mengalami perubahan-perubahan fungsional dan fisik akibat proses biokimia dan mikrobiologis yang terjadi.  Perubahan-perubahan ini mengakibatkan daya tahan daging dan produk olahannya menjadi terbatas. 
Asap cair merupakan bahan pengikat yang mengandung senyawa fenol yang bersifat sebagai antioksidan, oleh karena itu asap cair dapat menghambat kerusakan pangan dengan cara mendonorkan hidrogen dan efektif untuk menghambat autooksidasi lemak, sehingga dapat mengurangi kerusakan pangan karena oksidasi lemak oleh oksigen. Senyawa fenol yang terdapat pada asap cair mampu mengikat gugus-gugus lain seperti aldehid, keton, dan ester yang dapat mempengaruhi daya ikat pada sampel. Kandungan asam pada asap cair juga sangat efektif dalam mematikan dan menghambat pertumbuhan mikroba pada produk makanan yaitu dengan cara senyawa asam ini menembus dinding sel mikroorganisme yang menyebabkan sel mikroorganisme menjadi lisis kemudian mati, dengan menurunnya jumlah bakteri dalam produk makanan maka kerusakan pangan oleh mikroorganisme dapat dihambat sehingga meningkatkan umur simpan produk pangan.

Daging yang mengalami proses pascarigor akan mengalami penurunan daya ikat air sehingga susut masak menjadi meningkat, maka perlu dilakukan penambahan bahan yang bersifat sebagai bahan pengikat (binder).  Bahan tambahan pangan yang alami yang bersifat pengawet sekaligus sebagai bahan pengikat dan aman untuk dikonsumsi oleh manusia adalah asap cair, dengan penambahan asap cair pada daging pascarigor maka diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daging dalam mengikat air dan susut masak daging yang rendah.
Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya penelitian mengenai penambahan asap cair pada daging sebagai bahan pengikat (binder) pada ketiga jenis otot yaitu Longissimus dorsi, Semitendinosus, Pectoralis profundus selama pasca rigor dalam meningkatkan sifat fisik dan fungsional daging yang meliputi susut masak, daya putus daging (DPD), keempukan, kebasahan, flavour, dan residu pengunyahan.  Sehingga kualitas daging yang akan dibuat dalam suatu prodak dapat ditingkatkan.
                 Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu, untuk melihat peran asap cair sebagai bahan pengikat pada daging pascarigor, berupa perubahan fungsional dan fisik. Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pemberian asap cair pada daging akan mempertahankan sifat fungsional dan fisik pada daging pascarigor

Pengaruh Level Asap Cair Dan Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Daging Sapi Bali Prarigor Pada Otot Longissimus Dorsi (PT-26)

Minggu, 17 Februari 2013


Daging merupakan salah satu jenis hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Sama halnya dengan bahan pangan hewani lainnya seperti, susu, telur dan lain-lain, daging bersifat mudah rusak akibat proses mikrobiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani dengan baik.
Proses biokimia yang berlangsung sebelum dan setelah ternak mati sampai terbentuknya rigor mortis pada umumnya merupakan suatu kegiatan yang besar perannya terhadap kualitas daging yang akan dihasilkan pascarigor. Kesalahan penanganan pascamerta sampai terbentuknya rigor mortis dapat mengakibatkan mutu daging menjadi rendah ditandai dengan daging yang berwarna gelap (dark firm dry) atau pucat (pale soft exudative) ataupun pengkerutan karena dingin (cold shortening) atau rigor yang terbentuk setelah pelelehan daging beku (thaw rigor) (Abustam, 2009).
Perubahan otot menjadi daging meliputi perubahan sifat fisikokimia otot akibat perubahan-perubahan secara biokimia dan biofisik pada saat prarigor, rigormortis dan pascarigor.  Namun salah satu kendala pada sifat fungsional daging yaitu, adanya keterbatasan daging untuk  mengikat air  atau daging sapi fase prarigor hanya dapat bertahan sekitar 6-8 jam.  Dengan keterbatasan waktu yang mengharuskan daging tersebut haruslah segera diolah pada saat daging tesebut masih dalam fase prarigor mortis.  Salah satu cara untuk mempertahankan sifat fungsional yang dimiliki daging adalah dengan adanya penambahan bahan tambahan yang bisa mempertahankan sifat fungsional daging dan juga bisa menghasilkan kualitas yang baik pada daging tersebut.

Asap cair merupakan suatu campuran suatu dispersi asap kayu dalam air yang dibuat dengan mengkondensasikan asap hasil pembakaran kayu yang mengandung senyawa fenol yang berperan sebagai antioksidan dan dapat meningkatakan daya tahan dan kualitas daging.  Pada umumnya, penggunaan asap cair sering dikombinasikan dengan berbagai perlakukan seperti penggaraman, teknik pengemasan dan suhu penyimpanan, sebagai upaya efek sinergis terhadap mikroorganisme perusak dan meningkatkan umur simpan.  Asap cair dapat digunakan untuk memberikan karakteristik sensori terhadap produk olahan daging, dalam bentuk perubahan warna, bau, dan rasa.     
Daging fase prarigor pada otot Longissimus dorsi merupakan daging yang sangat baik digunakan untuk produk olahan.  Namun kenyataannya sifat fungsional daging fase prarigor tersebut hanya bertahan kisaran 6-8 jam.  Melihat sifat fungsional daging prarigor, maka dari itu dengan penambahan asap cair, sifat fungsional  daging sapi Bali pada fase pascarigor bisa dipertahankan.
          Pemberian asap cair sebagai bahan pengikat (binder) pada pangan hewani sesuai dengan perlakuan dan konsentrasi yang digunakan, diduga dapat mempertahankan sifat fungsional daging fase prarigor pada otot Longissimus dorsi.
          Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian level asap cair sebagai bahan pengikat dan bagaimana kualitas yang dihasilkan.   Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai media informasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan asap cair  sebagai bahan pengikat.