MAU PASANG IKLAN GRATIS UNTUK MENDAPAT PENGUNJUNG LEBIH BANYAK DAN MEMPERCEPAT USAHA ANDA BERHASIL...KLIK DISINI!!

Pasang Iklan Baris Gratis Tanpa Daftar

Iklan Baris Gratis ini disediakan untuk anda sebagai pemilik usaha, barang dan jasa serta berbagai peluang bisnis dan peluang usaha supaya anda bisa menunjukkan - mempromosikan produk jasa anda kepada seluruh dunia di internet. Promosi merupakan darah bagi kelancaran bisnis anda... untuk itu silahkan datang sesering mungkin untuk mempromosikan dan pasang "Iklan Baris Gratis" anda di website ini.

Pasang Iklan Baris Gratis disini bisa untuk jenis iklan apa saja, misalnya: iklan rumah, properti, jasa, domain hosting, laptop komputer, villa, kendaraan motor mobil, handphone hp bekas baru, bisnis mlm, segala jenis barang dan jasa.

Pasang iklan Anda, Gratis sepuas-puasnya di seluruh network Kami yg lain:

  • Azon Profit Master

Jual Kamboja Kering Dan Basah

Pohon kamboja, khususnya kamboja berbunga putih (Plumeira alba), masih dipandang sebelah mata. Sebab, kebanyakan tanaman ini tumbuh di kuburan. Tidak jarang, orang menyebutnya sebagai bunga kuburan. Bunganya yang telah dikeringkan, lantas ditumbuk halus, banyak dipakai sebagai bahan baku wewangian, kosmetik, industri kerajinan dupa, spa, serta teh herbal. Untuk harga perkilo, kami tidak mematok harga paten dikarenakan harga yang tidak stabil dan berubah sewaktu-waktu. Jika anda berminat, silahkan hubungi kami atau jika anda ada di Banjarmasin, bisa datang langsung ke tempat kami.
Dikirim oleh : Kamboja Kering, banjarmasin, 081334232727 | Kunjungi Website

DOWNLOAD - JURUS GOBLIN SAKTI

Jurus ampuh terbaik meraup RATUSAN SAMPAI RIBUAN dollar per hari! Kini Sudah saatnya anda berhasil meraih kebebasan finansial Anda dg strategi se-simple ini Ayoo..Buktikan kedahsyatan jurus ampuh ini! Raih Kebebasan finansial Anda sekarang juga! Dapatkan full Suport dari kami
Dikirim oleh : meki coli, mekicoli.blogspot.com, 082298975358 | Kunjungi Website

Penggunaan Handphone & Perubahan Pola Interaksi (SO-23)

Jumat, 15 Februari 2013
Suatu titik terang yang bermula pada suatu kesederhanaan pada kehidupan manusia, telah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mempermudah semua aspek kehidupan bernama Teknologi. Dunia informasi saat ini seakan tidak bisa terlepas dari teknologi. Konsumsi masyarakat akan teknologi menjadikan dunia teknologi semakin lama semakin canggih komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat dekat dan tanpa jarak.
Awalnya, teknologi diciptakan untuk mempermudah setiap kegiatan manusia. Lahir dari pemikiran manusia yang berusaha untuk mempermudah kegiatan-kegiatannya yang kemudian diterapkan dalam kehidupan. Kini teknologi telah berkembang pesat dan semakin maju seiring dengan perkembangan zaman sehingga terjadi pengalihan fungsi teknologi. Contohnya pada salah satu fasilitas canggih pada masa ini yang  dibahas yaitu mengenai Hp yang lebih dikenal dengan sebutan handphone.
Beberapa tahun yang lalu handphone hanya dimiliki oleh kalangan kelas menengah keatas yang memang benar-benar membutuhkan itu untuk kelancaran pekerjaannya. Seiring berjalannya waktu handphone bisa dimiliki oleh semua kalangan. Baik yang sangat membutuhkan maupun yang kurang membutuhkan. Karena sekarang handphone di lengkapi dengan beberapa fitur yang membuat handphone memiliki beberapa fungsi selain menelepon atau saling berkirim pesan singkat. Handphone kini bukan lagi sekadar alat untuk berkomunikasi. Namun juga sebagai gaya hidup, penampilan, trend dan prestise.

Namun demikian, pada sisi yang lain handphone juga mempunyai dampak yang tidak begitu baik. Diantaranya pertama, banyak waktu yang bisa terbuang jika penggunaanya tidak dilakukan dengan benar. Misalnya para pelajar lebih asyik bermain handphone daripada melakukan hal- hal lain yang lebih bermanfaat seperti belajar, berolahraga, maupun berkarya. Karena asyiknya bermain handphone, para remaja lupa akan kewajibannya sebagai seorang pelajar yaitu belajar. Hal ini tentu akan mempengaruhi nilainya di sekolah. Biasanya di kalangan remaja handphone digunakan untuk mengakses internet karena di dalam handphone yang terbaru terdapat fitur web. Situs- situs yang sering dibuka oleh para kalangan remaja misalnya facebook, friendster, waptrick dan sebagainya.
Hal ini dapat menimbulkan ketergantungan. Selain fitur internet, kegemaran para remaja untuk mengirimkan sms secara beruntun atau biasa disebut sms- an juga dapat mempengaruhi nilai para remaja. Kegemaran tersebut sangat asyik sehingga dapat menyita waktu para remaja untuk belajar dan mengerjakan tugas rumah. Apalagi game yang terdapat pada handphone. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada nilai ulangan sekolah para remaja. Karena asyiknya bermain mereka lupa akan kewajibannya belajar. Sehingga saat ulangan tiba kalangan remaja sering mengandalkan teman- teman. Karena mereka tidak bisa mengerjakan ulangan karena tidak belajar dengan terpaksa para remaja menyalahgunakan handphone untuk menanyakan jawaban kepada teman- temannya di lain sekolah.
Keberadaan handphone bisa berdampak pada terlalu bergesernya nilai- nilai kesederhanaan ke dalam nilai- nilai hedonisme (pola hidup yang lebih suka mengikuti dengan keadaan saat ini) dan konsumerisme (gaya hidup konsumtif). Karena handphone bisa menjadi lambang  prestise  seseorang  yang dapat menunjukkan status sosial ekonomi mereka. Misalnya seseorang agar dianggap mampu mereka mengupayakan untuk membeli handphone yang harganya lebih dari 2 juta rupiah. Seseorang yang memandangnya pasti akan mengira kalau dia orang kaya. Sebaliknya jika seseorang memiliki handphone yang standar-standar saja tidak berkamera maka seseorang akan memandang bahwa dia orang yang kurang begitu mampu.
Keberadaan handphone juga dapat menimbulkan kriminalitas pada kalangan remaja. Orang akan menghalalkan segala cara supaya dia memiliki handphone. Hal ini dikarenakan adanya kecemburuan social antar remaja. Remaja yang berasal dari keluarga yang mampu biasanya sering menjauhi orang- orang yang kurang mampu. Jika remaja yang kurang mampu tersebut ingin menjadi bagian dari kelompok para remaja yang berasal dari keluarga mampu maka, dia harus mengikutigaya hidup para remaja yang berasal dari keluarga menengah keatas tersebut. Seperti membeli handphone.
Kini dunia handphone adalah dunia untuk berkomunikasi, berbagi, mencipta dan menghibur dengan suara, tulisan, gambar, musik dan video. Disamping harga yang ditawarkan cukup terjangkau, berbagai fitur handphone juga diberikan sebagai penunjang majunya teknologi. Dengan semakin berkembangnya teknologi, perangkat Handphone semakin lengkap mulai dari Game, Mp3, Kamera, Radio, dan koneksi Internet.
Bahkan sekarang muncul teknologi baru untuk melengkapi komponen yaitu 3G. Dimana generasi ini telah merambah ke layanan internet secara Wireless. Teknologi ini, telah merambah ke akses secara permanent Web, Video interaktif, dengan kualitas suara yang sangat baik sekualitas CD Audio Player hingga ke teknologi kamera video yang diintegrasikan dalam telepon seluller.
Penggunaan handphone yang semakin berkembang di kalangan remaja ini, menimbulkan berbagai macam perubahan sikap dan perilaku di kalangan remaja  itu sendiri. Remaja  lebih memilih untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang berada di dalam satu komunitas pengguna handphone daripada berkomunikasi dengan teman yang ada disebelahnya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa pengguna handphone ini, “menjadikan teman yang jauh menjadi dekat dan teman yang dekat menjadi jauh”.
Fenomena tersebut yang dijadikan setting penelitian dengan alasan yang didasarkan pada asumsi bahwa terpaan teknologi yaitu telepon genggam memiliki ‘’Pengaruh Penggunaan Handphone Terhadap Pola Interaksi ’’ Studi kasus remaja di Kelurahan Murante Kota Palopo.

Peranan Istri Petani Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga Di Desa Tawaroe Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone (SO-22)



Keluarga merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya (keluarga inti/batih). Pada umumnya sebuah keluarga tersusun dari orang-orang yang saling berhubungan darah dan atau perkawinan meskipun tidak selalu. Saling berbagi atap (rumah), meja makan, makanan, uang, bahkan emosi, dapat menjadi faktor untuk mendefinisikan sekelompok orang sebagai suatu keluarga (Abdullah, 1997:140).
            Dalam setiap masyarakat pasti akan di jumpai keluaraga batih (“nuclear family”). Keluarga batih didasarkan atas ikatan perkawinan yang terdiri atas suami, istri dan anak yang belum menikah. Keluarga batih tersebut lazimnya juga disebut rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dalam proses pergaulan hidup (Soekanto, 1990:1), dan keluarga kerabat merupakan atas adanya perkaiatan darah atau ikatan keturunan dari sejumlah orang kerabat. Dari pandangan manapun, keluarga dianggap sebagai elemen sistem sosial yang akan membentuk sebuah masyarakat. Adapun lembaga perkawinan, sebagai sarana pembentuk keluarga adalah lembaga yang paling bertahan dan digemari seumur kehadiran masyarakat manusia. Berdasarkan definisi diatas suatu keluarga terbentuk melalui perkawinan, yaitu ikatan lahir batin seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal sejahtera. Perilaku yang dilakukan oleh suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera dipandang sebagai perilaku kekeluargaan, ini juga dapat diartikan sebagai perilaku dalam kehidupan bersama yang di dasari semangat saling pengertian, kebersamaan rela berkorban, saling asah, asih, dan asuh serta tidak ada maksud untuk menguntungkan diri pribadi dan merugikan anggota lain dalam keluarga tersebut.
          Seorang laki-laki sebagai ayah maupun perempuan sebagai ibu didalam suatu keluarga memiliki kewajiban bersama untuk berkorban untuk guna kepentingan bersama pula. Kedudukan ayah ataupun ibu didalam rumah keluarga memiliki hak yang sama untuk  ikut melakukan kekuasaan demi keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan seluruh anggota. Status suami istri dalam keluarga adalah sama nilainya, keluarga akan kokoh dan berwibawa apabila dari masing-masing anggota keluarga yang ada didalam seimbang, selaras dan serasi. Perbedaan posisi antara ayah dan ibu dalam keluarga pada dasarnya disebabkan oleh faktor biologis. Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin wanita berbeda dengan alat kelamin laki-laki, wanita memiliki sepasang buah dada yang lebih besar, suara wanita lebih halus, wanita melahirkan anak dan sebagainya. Selain itu secara psikologis, laki-laki akan lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif. Sedangkan secara psikologis wanita lebih emosional, lebih pasif. (Budiman dalam Sudarwati, 2011).

            Perbedaan secara biologis terbentuk pada akhirnya menghasilkan perbedaan tugas didalam keluarga. Wanita yang cenderung lebih emosional atau lebih melihat segala sesuatu dari sudut perasaan dinilai sangat sesuai dengan tugasnya untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak. Wanita memang dilahirkan dengan naluri keibuan yang sering disebut nurturing instinc, dengan naluri ini seorang istri diserahi tanggung jawab untuk mengasuh anak.
            Dengan demikian, keberhasilan suatu keluarga dalam membentuk suatu rumah tangga dan sejahtera tidak lepas dari peran seorang ibu yang begitu besar. Baik dalam membimbing dan mendidik anak mendampingi suami, membantu pekerjaan suami bahkan sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Namun demikian kebanyakan dari masyarakat masih menempatkan seorang ayah sebagai subyek, sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Sedangkan ibu lebih ditempatkan sebagai objek yang dinomor duakan dengan kewajiban mengurus anak di rumah.
  Oleh karenanya terdapat pembagian kerja antara ayah dan ibu, ayah  memiliki areal pekerja publik karena kedudukannya sebagai pencari nafkah utama didalam keluarga, sedangkan ibu memiliki areal pekerja domestik yang dapat diartikan oleh sebagian masyarakat yang menyatakan secara sinis bahwa seorang ibu hanya sekedar wanita yang memiliki tiga fungsi yaitu memasak, malahirkan anak, berhias, atau hanya memiliki tugas dapur, dan kasur (Notopuro, 1984 : 51).
Faktor sosial budaya yang dikemukakan diatas kadangkala menjadi penghalang ruang gerak bagi istri, akibatnya kesempatan bagi kaum ibu didalam dunia bisnis tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Dengan tidak adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap kesempatan bagi kaum ibu didalam dunia bisnis, pada akhirnya membuat kaum ibu sulit untuk mengaktualisasikan dirinya didalam masyarakat terutama didalam area pekerja publik.
Berdasarkan struktur sosok wanita yang dikonsepkan oleh faktor sosial diatas maka kita akan  di pertanyakan mengapa wanita mendapatkan fungsi rumah tangga atau pekerja domestik? Pemberian fungsi rumah tangga bagi peran perempuan harus melahirkan. Ini adalah fungsi yang diberikan alam kepada mereka dan fungsi ini tidak dapat diubah.
Walaupun demikian, ada suatu kecenderungan bahwa peranan ibu mulai berubah, terutama di kota-kota besar di Indonesia.Perubahan-perubahan tersebut antara lain disebabkan, karena hal-hal sebagai berikut:
1.      Kesempatan untuk bekerja semakin banyak bagi para wanita.
2.      Adanya lembaga-lembaga pendidikan lanjutan yang terbuka bagi para wanita.
3.      Dibentuknya organisasi-organisasi wanita yang ada kaitannya dari tempat bekerja dari suami.
          Sesuai dengan anggapan umum masyarakat, seorang wanita atau seorang ibu dianggap tabuh atau menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita apabila terlalu sering keluar rumah. Terlebih lagi apabila keluar rumah tanpa memperhatikan alasan mengapa dan untuk apa perbuatan itu dilakukan. Namun jika kita mau melihat dari fakta yang ada dilapangan sering kali kaum ibu menjadi penyelamat perekonomian keluarga. Fakta ini terutama dapat terlihat pada keluarga-keluarga yang perekonomiannya tergolong rendah, banyak dari kaum ibu yang ikut menjadi pencari nafkah tambahan bagi keluarga. Pada keluarga yang tingkat perekonomiannya kurang atau prasejahtera peran ibu tidak hanya dalam areal pekerja domestik tetapi juga areal publik. Ini dimungkinkan terjadi karena penghasilan ayah sebagai pencari nafkah utama tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Para ibu lebih banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat informal seperti berdagang, menjadi pembantu rumah tangga dan lain sebagainya dalam upaya mencari nafkah tambahan bagi keluarga. Rumah tangga petani adalah salah satu contoh nyata dari keluarga yang perekonomiannya rendah didalam masyarakat. Rumah tangga petani sudah lama diketahui tergolong miskin, selain rumah tangga nelayan, buruh tani dan pengrajin (Sayogya, 1978: 1991).
          Istri petani ternyata memiliki peranan yang penting dalam menyiasati serta mengatasi kemiskinan yang dialaminya. Masyarakat di Desa Tawaroe Kecematan Dua Boccoe Kab.Bone adalah salah satu bukti nyata yang ada didalam masyarakat  mengenai peranan kaum perempuan pada masyarakat petani dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Sebagai salah satu desa yang terletak jauh dari keramaian Kota Watampone, mata pencaharian masyarakat desa Tawaroe adalah sebagian sebagai petani. Sebagian besar perpotensi sebagai pemilik lahan dan pekerja.
          Masyarakat di Desa Tawaroe yang berpotensi sebagai petani biasanya bertani dengan menggunakan peralatan yang masih sangat tradisional. Masyarakat desa Tawaroe sebagai masyarakat petani didalam kehidupan sehari-hari memiliki permasalahan yang sama dengan masyarakat lainnya. Kemiskinan adalah salah satu masalah yang dihadapi masyarakat petani di desa Tawaroe ketidak berdayaan mereka dalam faktor ekonomi didalam kehidupan sehari-hari diakibatkan oleh penghasilan yang tidak menentu dan cenderung kecil dan mereka tidak bisa pergi bertani setiap hari karena faktor cuaca atau musim dan sebagainya.
            Kaitannya dengan konsep diri mengenai sosok wanita yang ideal dari wanita Indonesia dengan peranan istri dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya pada masyarakat petani di desa Tawaroe Kec. Dua Boccoe Kab.Bone maka pandangan  dan anggapan-anggapan yang memandang rendah kedudukan dan peranan ibu  dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga tidak berlaku dimasyarakat Desa Tawaroe dalam pembagian kerjanya berdasarkan kelamin. Pembagian kerja yang terjadi pada masyarakat Desa Tawaroe dalam penerapannya didalam kehidupan sehari-hari walaupun ada jenis-jenis pekerjaan tertentu yang dibagi secara jelas. Pada keluaraga pekerja, isteri bertugas mengurus pembagian hasil panen dengan pemilik lahan, sedangkan pada keluarga pemilik lahan istri bertugas untuk menjual hasil panen mereka. Disisi lain, sebagai anggota keluarga petani, wanita tani berperan aktif dalam membantu usahatani dan mencari nafkah di subsektor off dan non farm. Makin luas lahan usahatani yang digarap, makin banyak tenaga wanita yang tercurah, yang mengindikasikan  variasi dan ragam aktivitas dan kuantitas curahan waktu/tenaga wanita tani. Bila wanita tani berstatus janda atau suami bekerja di rantau, otomatis wanita akan berperan ganda, yaitu sebagai kepala rumah tangga (yang mengatur segala kebutuhan rumah tangga) dan sebagai pengelola usahatani keluarga.

Peranan Orang Tua Dalam Sosialisasi Nilai-Nilai Keagamaan Terhadap Anak Di Desa Citta Kecamatan Citta Kabupaten Soppeng (SO-21)



Hampir semua manusia lahir dan dibesarkan dalam suatu wadah yang disebut keluarga. Kemudian dikelilingi manusia lainnya yang disebut masyarakat dan dalam setiap masyarakat pasti selalu ada nilai-nilai, norma-norma, dan aturan atauran yang harus dipatuhi oleh anggota-anggotanya. Walaupun manusia terlahir dengan membawah bakat-bakat yang terkandung dalam gennya untuk mengembangkan perasaaan, hasrat dan nafsu serta emosi dalam kepribadian setiap individu, tapi untuk meningkatkan dari sisi kepribadiannya sangat dipengaruhi oleh stimuli yang ada dilingkungn sekitarnya seperti lingkungan alam dan sosial budaya.
Akhir-akhir ini, telah muncul gejala-gejala kurang baik yang menimbulkan masalah atau kegoncangan dalam kehidupan keluarga, salah satunya adalah kenakalan anak. Sebagai sistem sosial terkecil, keluarga memiliki pengaruh luar biasa dalam hal pembentukan karakter suatu individu. Keluarga menjalankan peranannya sebagai suatu sistem sosial yang dapat membentuk karakter serta moral seorang anak dengan cara menanamkan nilai-nilai/norma yang baik pada anak . Keluarga tidak hanya sebuah wadah tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Sebuah keluarga sesungguhnya lebih dari itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Berawal. Kemampuan untuk bersosialisasi mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang.
Keluarga merupakan payung kehidupan bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi seorang anak. Dalam setiap masyarakat, ayah dan ibu merupakan pranata sosial yang sangat penting artinya bagi kehidupan sosial. Seseorang menghabiskan paling banyak waktunya dalam ayah dan ibu dibandingkan dengan di tempat-tempat lain, dan ayah dan ibu adalah wadah di mana sejak dini seorang anak dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya dalam dunia orang dewasa.
Maka dari itu Orang tua (ayah dan ibu) mempunyai peranan sebagai teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pemikiran dan perilaku anak karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan ayah dan ibu. Ayah dan ibu berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat.

Banyak anak yang mengalami krisis moral dan etika, maka sebagai orang tua kita harus mencari dan mengetahui sejauhmana mereka jatuh kedalaman pananya dunia kenakalan orang tua bertanggung jawab sepenuhnya terhadap diri sianak perilaku anak merupakan implementasi dari moral yang dimiliki anak baik-buruknya prilaku atau etika tersebut dipengaruhi faktor pemahaman moral yang ada pada dirinya. sejauhmana ia mencari jatih diri yang sesungguhnya yaitu manusia yang bertanggung jawab dan bermartabat juga karena faktor pengetahuan moral tersebut.
Baik dan buruknya moral anak tergantung bagaimana orang tua mendidik anak tersebut. Dalam hal ini bila mana sianak tumbuh menjadi manusia yang tidak bermoral maka semua itu dikarenakan kelemahan orang tua dalam mendidik anak. Sebaliknya bila anak tumbuh menjadi manusia yang berbudi semua dikarnakan peran serta orang tua sebagai penempah yang bijak. Interaksi anak diluar lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan moralnya misalnya disekolah, anak tersebut akan bergaul dan berinteraksi dengan berbagai macam perilaku dan jiwa yang berbeda-beda namun semua hal ini dapat dihindari apabila pondasi yang dibangun orang tua telah kokoh dan matang diterima anak, godaan sebesar apapun yang datang tidak akan mempengaruhi moral anak (Azmi, 2006).
Peran orang tua dalam pendidikan mempunyai peranan besar terhadap masa depan anak. Sehingga demi mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka sebagai orang tua harus berusaha untuk dapat menyekolahkan anak sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi adalah salah satu cara agar anak mampu mandiri secara finansial nantinya. Sebagai orang tua harus sedini mungkin merencanakan masa depan anak-anak agar mereka tidak merana. Masa anak-anak merupakan masa transisi dan kelanjutan dalam menuju tingkat kematangan sebagai persiapan untuk mencapai keremajaan.
Dalam pandangan agama islam anak memiliki posisi yang istimewa. Selain sebagai cahaya mata ayah dan ibu, anak juga merupakan pelestari pahala bagi kedua orang tuanya. Bagi sebuah ayah dan ibu anak adalah penerus nasab (garis keturunan). Anak-anak shalih akan senantiasa mengalirkan pahala bagi kedua orang tuanya, dengan demikian selayaknya orang tua muslim memperhatikan pendidikan anak-anaknya agar mereka menjadi saleh dan saleha. 
Kesadaran terhadap pentingnya mendidik anak shalih akan memotivasi setiap orang tua muslim untuk memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya agar menjadi pribadi yang mulia. Jangan sampai anak keturunannya tergelincir ke jalan yang sesat disebabkan oleh ketidak pahaman terhadap islam dan hukum-hukumnya. Maka dari itu orang tua harus menanamkan nilai-nilai keagamaan bagi anaknya seperti akhlak atau perilaku yang baik, Aqidah, kejujuran, tanggung jawab, percaya diri dan lain sebagainya.
Desa Citta sebagai salah satu desa yang terletak diseblah timur kabupaten Soppeng, perbatasan dengan kabupaten Bone dan Wajo. Secara geografis desa ini terletak di lereng gunung Citta pada ketiggian ± 300 meter. Citta adalah desa terisolir dan terpencil karena letaknya dibatasi oleh sungai walennae, namun didesa Citta ini terdapat kawasan wisata alam yaitu permandian yang banyak diminati oleh masyarakat di desa Citta dan sekitarnya.
Di desa Citta ini masih terdapat masalah-masalah yang melenceng dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, salah satunya adalah kenakalan anak. Seperti, masih terdapat anak yang sering berkelahi bersama teman-temannya, anak yang sering membangka kepada orang tua, perjudian, dan anak yang sering minum minuman keras/alkohol, bahkan pernah terjadi kasus di desa Citta seorang pemuda yang tewas ditikam oleh temannya sendiri , maka dari itu setiap anak masih perlu mendapatkan bimbingan dari kedua orang tuanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang bertentangan dengan nilai dan norma.
Bertolak dari pentingnya peranan orang tua dalam mensosialisasikan nilai-nilai sebelum seseorang terjun dalam lingkungan pergaulan masyarakat maka dari itu peneliti merasa perlu melakukan tindakan dalam upaya mengatahui peranan orang tua dalam keluarga dan nilai-nilai keagamaan apa saja yang di ajarkan kepada anaknya, maka dari itu peneliti malakukan penelitian yang berjudul “ Peranan orang tua dalam sosialisasi nilai-nilai keagamaan terhadap anak di Desa Citta, Kecamatan Citta, Kabupaten Soppeng”

Peran Ganda Perempuan Pada Keluarga Masyarakat Pesisir (SO-20)



Keluarga merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya (keluarga inti/batih). Pada umumnya sebuah keluarga tersusun dari orang-orang yang saling berhubungan darah dan atau perkawinan meskipun tidak selalu. Saling berbagi atap (rumah), meja makan, makanan, uang, bahkan emosi, dapat menjadi faktor untuk mendefinisikan sekelompok orang sebagai suatu keluarga (Abdullah, 1997:140).
Dalam setiap masyarakat pasti akan dijumpai keluarga batih (nuclear family). Keluarga batih tersebut merupakan kelompok sosial kecil yang terdiri dari suami, istri beserta anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga batih tersebut lazimnya juga disebut rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dalam proses pergaulan hidup (Soekanto, 1990:1).
Berdasarkan definisi diatas suatu keluarga terbentuk melalui perkawinan, yaitu ikatan lahir batin seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera. Perilaku yang dilakukan oleh suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera dipandang sebagai perilaku kekeluargaan, ini juga dapat diartikan sebagai perilaku dalam kehidupan bersama yang didasari semangat saling pengertian, kebersamaan rela berkorban, saling asah, asih, dan asuh serta tidak ada maksud untuk menguntungkan diri pribadi dan merugikan anggota lain dalam keluarga tersebut. Seorang laki-laki sebagai ayah maupun perempuan sebagai ibu di dalam suatu keluarga memiliki kewajiban bersama untuk berkorban guna kepentingan bersama pula. Kedudukan ayah ataupun ibu di dalam keluarga memiliki hak yang sama untuk ikut melakukan kekuasaan demi keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan seluruh anggota. Status suami istri dalam keluarga adalah sama nilainya, maksudnya masing-masing dianggap baik dalam bertindak. Suatu keluarga akan kokoh dan berwibawa apabila dari masing-masing anggota keluarga yang ada di dalamnya selaras, serasi dan seimbang. Perbedaan posisi antara ayah dan ibu dalam keluarga pada dasarnya disebabkan oleh faktor biologis. Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin wanita berbeda dengan alat kelamin laki-laki, wanita memiliki sepasang buah dada yang lebih besar, suara wanita lebih halus, wanita melahirkan anak dan sebagainya. Selain itu secara psikologis, laki-laki akan lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif. Sedangkan secara psikologis wanita lebih emosional, lebih pasif (Budiman dalam Sudarwati, 2011).

Keberhasilan suatu keluarga dalam membentuk sebuah rumah tangga dan sejahtera tidak lepas dari peran seorang ibu yang begitu besar. Baik dalam membimbing dan mendidik anak mendampingi suami, membantu pekerjaan suami bahkan sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Namun demikian kebanyakan dari masyarakat masih menempatkan seorang ayah sebagai subyek, sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Sedangkan ibu lebih ditempatkan sebagai objek yang dinomor duakan dengan kewajiban mengurus anak di rumah.
Oleh karenanya terdapat pembagian kerja antara ayah dan ibu, ayah memiliki areal pekerja publik karena kedudukannya sebagai pencari nafkah utama di dalam keluarga, sedangkan ibu memiliki areal pekerja domestik yang dapat diartikan oleh sebagian masyarakat yang menyatakan secara sinis bahwa seorang ibu hanya sekedar wanita yang memiliki tiga fungsi yaitu memasak, melahirkan anak, berhias, atau hanya memiliki tugas dapur, sumur, dan kasur (Notopuro, 1984 : 51).
Faktor sosial budaya yang dikemukakan di atas kadangkala menjadi penghalang ruang gerak bagi istri, akibatnya kesempatan bagi kaum ibu di dalam dunia bisnis tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat terhadap kesempatan bagi kaum ibu di dalam dunia bisnis, pada akhirnya membuat kaum ibu sulit untuk mengaktualisasikan dirinya di dalam masyarakat terutama dalam area pekerja publik.
 Berdasarkan struktur sosok wanita yang dikonsepkan oleh faktor sosial di atas maka kita akan mempertanyakan mengapa wanita mendapatkan peran dalam tangga saja atau pekerja domestik? Pemberian fungsi rumah tangga bagi para perempuan lebih disebabkan karena kaum perempuan harus melahirkan. Ini adalah peran yang diberikan alam kepada mereka dan fungsi ini tidak dapat diubah. Sesuai dengan anggapan umum masyarakat, seorang wanita atau seorang ibu dianggap tabuh atau menyalahi kodratnya sebagai seoarang wanita apabila terlalu sering diluar rumah. Terlebih lagi apabila keluar rumah tanpa memperhatikan alasan mengapa dan untuk apa perbuatan itu di lakukan. Namun jika kita mau melihat dari fakta yang ada dilapangan sering kali kaum ibu menjadi penyelamat perekonomian keluarga. Fakta ini terutama dapat terlihat pada keluarga-keluarga yang perekonomiannya tergolong rendah, banyak dari kaum ibu yang ikut menjadi pencari nafkah tambahan bagi keluarga. Pada keluarga yang tingkat perekonomiannya kurang atau pra-sejahtera peran ibu tidak hanya dalam areal pekerja domestik tetapi juga areal publik. Ini dimungkinkan terjadi karena penghasilan sang ayah sebagai pencari nafkah utama tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga.
Rumah tangga nelayan adalah salah satu contoh nyata dari keluarga pra-sejahtera yang ada di masyarakat. Rumah tangga nelayan sudah lama diketahui tergolong miskin, selain rumah tangga petani sempit, buruh tani, dan pengrajin (Sayogya, 1978: 1991). Istri nelayan ternyata memiliki peranan yang penting dalam menyiasati serta mengatasi kemiskinan yang dialaminya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya.
Masyarakat nelayan Desa Angkue Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone adalah salah satu bukti nyata yang ada di dalam masyarakat mengenai peran ganda kaum perempuan pada masyarakat nelayan sebagai salah satu desa yang di kelilingi oleh laut. Pada keluarga masyarakat pesisir Desa Angkue justru  membawa dampak terhadap peranan wanita dalam kehidupan keluarga. Di satu pihak, wanita bekerja dapat berperan membantu ekonomi keluarga dan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, disisi lain peranannya dalam urusan rumah tangga (domestik) menjadi berkurang karena lamanya waktu yang digunakan untuk aktivitas di luar rumah tangga (publik).
Sebagai salah satu dari anggota keluarga, seorang ibu dituntut untuk ikut berperan aktif dalam mencapai tujuan tersebut, sehingga tidak hanya tergantung dari apa yang dilakukan dan diperoleh suami. Hal inipun berlaku juga pada keluarga nelayan yang berada di Desa Angkue. Di kehidupan keseharian, perempuan memiliki peran yang lebih besar ketimbang kaum laki-laki, dimana di satu sisi mereka ditempatkan pada posisi domestik, pada sisi yang lain mereka memegang peranan sosial-ekonomi juga.
Keterlibatan istri nelayan pada kegiatan ekonomi keluarga di Pesisir Desa Angkue memberikan pandangan tersendiri bahwa antara suami maupun istri tidak ada pemabakuan peran bahwa istri hanya mampu berperan didalam rumah tangga saja (domestik) sedangkan suami bertugas diluar rumah tangga (publik), kenyataannya mayoritas keluarga nelayan yang ada di Desa Angkue memiliki semangat kerjasama yang baik dimana antara suami maupun istri turut serta atau ikut berpartisipasi langsung dalam hal mencari nafkah. Walaupun terkadang istri nelayan juga merasakan bahwa bekerja mencukupi kebutuhan rumah tangga adalah kewajiban, meskipun mereka kadang merasakan ada yang tidak adil dalam hidup ini. Namun mereka juga tidak mampu berbuat apa-apa untuk melawan. Sebab mereka telah terbiasa disosialisasi bagaimana menjadi istri nelayan yang baik, jika mujur, mereka menikah, mempunyai anak dan kaya. Sebaliknya jika mereka tidak mujur, maka hal itu merupakan nasib mereka. Proses konstruksi sosial dari lingkungan masyarakat nelayan berdasar dari status orang tua mereka sebagai nelayan juragan atau buruh nelayan diterima sebagai suatu kewajaran.